Menjadi Pribadi Seutuhnya

iv style="text-align: justify;"> Dalam perjalanan hidup sehari-hari kita lebih condong menjadi pribadi orang lain. Benar tidaknya mari kita refleksikan diri dengan kenyataan yang ada. Mulai dari cara berpakaian, gaya rambut, gaya berbicara, bahkan gaya berjalan pun jadi bagian orang lain. Menjadi pribadi seutuhnya tidaklah mudah karena kecenderungan dalam hidup selalu membandingkan diri dengan orang lain. Kenapa dia bisa pegang hand phone yang mahal-mahal sedangkan saya tidak? Dia punya rambut lebih bagus dari saya, saya akan coba mengikuti gayanya. Bukankah kita lebih sering membandingkan diri kita dengan orang lain?
Kehidupan yang kita refleksikan dalam diri jarang kita gunakan potensi yang ada dalam diri kita. Kenapa demikian? Oleh karena pribadi kita masih terlalu sering digantungkan serta dibandingkan dengan orang lain. Menjadi pribadi seutuhnya adalah sesuatu yang sangat mudah. Perkara kehidupan yang selalu berpegang teguh pada prinsip walau tantangan terberatnya adalah orang-orang sekitar kita. Contoh, ketika anda membaca Alkitab dan merenungkan serta merefleksikan dalam hidup tiba-tiba ada celotehan, "Wah, lu sudah insaf ya? atau hanya sekadar membaca?" Pernyataan itu mengandung pertanyaan yang cukup dalam dan jika dimaknai dari segi negatif yang ada darah mendidih dan berkata, "Kalau ya kenapa, dan kalau pun tidak kenapa? sewot amat. tidak bisa lihat orang bertobat ya?" Orang yang memberi komentar tadi terdiam dan boleh jaid dia merespon dengan pernyataan berikut, "Hanya sekadar bertanya, eh malah emosi. Maaf ya aku salah bertanya." Sambil lalu. 
Dalam Matius 10:22-39, Yesus mengamarkan kita menjadi murid-Nya atau pengikut-Nya. Pertanyaannya adalah bisakah kita menjadi pribadi yang seutuhnya tanpa melukai perasaan orang lain? Ayat tersebut mengajukan satu pernyataan sikap,  "Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat." Bagaimana kita bisa menjadi satu pribadi yang utuh jika kita akan dibenci? Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa saya mengasihi Tuhan sementara orang-orang yang di dalam rumah memusuhi kita karena kebenaran? seperti pernyataan berikut ini, ""Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Yesus akan membuat iman kita lebih dewasa disaat kita memilih menjadi pribadi yang taat beribadah. Pribadi yang hormat kepada orang tua walau sekalipun mereka membenci kebenaran yang ada pada kita. Kebenaran yang bukan hanya kebenaran, tapi kebenaran yang berlandaskan hukum kasih Tuhan. 
Menjadi Pribadi Seutuhnya adalah pribadi yang tidak lagi melihat orang lain dari segi gaya dan keberadaan finansialnya. Pribadi seutuhnya dilihat dari sikap hati melayani tanpa pamrih. Melayani dengan seutuhnya.
Pikiran adalah
yang dipercayakan dari Allah. Kemampuan pikiran harus dipupuk. Kemampuan pikiran itu harus digunakan dengan bijaksana agar supaya bertambah dalam kekuatan. Masing-masing menggunakan bakat-bakat
yang dipercayakan kepadanya sedemikian rupa agar kebaikan yang paling besar dapat dilakukan. Pikiran harus dididik agar energi jiwa yang paling baik dihasilkan dan setiap kemampuan dikembangkan. Kita tidak
boleh puas dengan standar yang rendah. Kita harus maju terus dari satu bidang kemajuan pekerjaan kepada bidang kemajuan yang lain. Pikiran adalah milik kita yang paling baik; tetapi pikiran itu harus dilatih oleh belajar, oleh perenungan, oleh belajar di sekolah Kristus, pendidik terbaik dan terbenar yang pernah dikenal
oleh dunia ini. Pekerja Kristen harus bertumbuh. Ia harus membangun tabiat yang berguna; ia harus mendidik dirinya sendiri untuk menanggung kekerasan dan menjadi bijaksana merencanakan dan melaksanakan
pekerjaan Allah. Ia harus seorang yang pikiran dan percakapannya suci dan murni—seorang yang menjauhkan diri dari setiap penampilan jahat dan tidak memberikan kesempatan bagi celaan melalui jalan-jalannya yang tidak mempedulikan. Ia harus benar dalam hati; dalam mulutnya harus tidak ada tipu muslihat. Ia [Kristus] mati bagiku agar aku bisa diberkati dan agar sukacitanya boleh tinggal di dalam aku. Oleh sebab itu aku menjaga pikiranku tetap dalam saluran itu; aku mendidiknya; aku melatihnya; aku melatih lidahku;
aku melatih pemikiran-pemikiranku; aku melatih semua yang ada padaku agar aku boleh mengikatkannya pada Yesus Kristus. Setiap kemampuan pikiran . . . menunjukkan bahwa Allah merancang kemampuan-kemampuan ini untuk digunakan, bukan untuk dibiarkan tidak aktif Keamanan satu-satunya bagi setiap jiwa ialah berpikir yang benar. “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia” (Ams. 23:7). Kemampuan mengekang diri sendiri diperkuat oleh latihan. Yang pada mulanya kelihatan sulit, dengan mengulang-ulangi akan menjadi lebih mudah, sampai akhirnya pemikiran dan tindakan yang benar menjadi kebiasaan. Jika kita mau, kita boleh berpaling dari semua yang murahan dan rendahan dan bangkit kepada standar yang tinggi; kita boleh dihargai oleh orang-orang dan dikasihi oleh Allah. Pikiranmu yang terakhir pada malam hari, pikiranmu yang pertama di pagi hari, haruslah mengenai Dia yang adalah pusat dari pengharapanmu akan kehidupan yang kekal. Sifat positif dan energik, kekukuhan dan kekuatan tabiat yang dinyatakan dalam Kristus harus diperkembang di dalam kita melalui disiplin yang sama yang ditanggung-Nya. Dan kasih karunia yang diterima-Nya adalah untuk kita.
Pemikiran harus berpusat pada Allah. Kita harus melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengalahkan kecenderungan-kecenderungan jahat hati alami. Usaha-usaha kita, penyangkalan diri dan ketekunan kita, harus sebanding dengan nilai tak terbatas dari tujuan yang sekarang kita kejar. Hanya oleh
mengatasi sebagaimana Kristus telah mengatasi kita bisa memenangkan mahkota kehidupan. 
Jika engkau membiarkan orang lain memikirkan untuk dirimu sendiri, maka engkau akan memiliki
energi yang pincang dan kemampuan yang menyusut. Banyak orang yang kecerdasannya atau inteleknya menjadi kerdil karena membiarkan diri mereka tetap tinggal memikirkan perkara-perkara yang biasa saja.
Engkau harus bergumul dengan masalah pemikiran yang membutuhkan penggunaan kemampuan terbaik pikiranmu.
Jadilah Pribadi Seutuhnya, yang siap melayani dengan segala kerendahan hati. Siap dibentuk dengan peragai yang selalu memuliakan pencipta langit dan bumi. Jika ini kita lakukan maka kita akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Selamat memaknai hari dengan penuh ucapan syukur dan doa. I Timotius  6:8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.

Komentar