MENYUSUN LAPORAN HASIL OBSERVASI 1
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SMAS Advent Nusra
|
Alokasi Waktu 2 x 45 menit
|
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
|
KD. 3.1 dan 4.1
|
Kelas/Semester X/I
|
IPK 3.1.1 dan 4.1.1
|
Materi Pokok : Isi Laporan Hasil
Observasi yang Dipresentasikan Secara Lisan
|
|
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah melalui proses
pembelajaran dengan model discovery learning, peserta didik
mampu mengidentifikasi isi laporan hasil observasi yang dipresentasikan
secara lisan; menyeleksi isi teks laporan hasil observasi yang
dipresentasikan secara lisan; memiliki sikap tanggung jawab, kreatif, kerja
sama, dan selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
B. Langkah-Langkah Pembelajaran (model discovery
learning)
1. Pendahuluan (8 Menit)
|
|
a. Guru berkomunikasi dengan peserta didik
melalui grup whatsapp untuk segera masuk ke aplikasi google classroom, mengecek kehadiran
peserta didik melalui aplikasi whatsapp , mengucapkan salam
pembuka, berdoa untuk memulai pembelajaran.
|
|
b. Guru menanyakan kabar tentang kesehatan
peserta didik, mengingatkan peserta didik untuk senantiasa menjaga kebersihan
dan menjaga jarak saat berada di luar rumah.
|
|
c. Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
|
|
d. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran atau
kompetensi dasar yang akan dicapai
|
|
e. Guru menyampaikan cakupan materi dan
penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
f.
Guru dan peserta didik log out dari
aplikasi google classroom.
|
|
2. Inti (70 Menit)
|
|
a. stimulation (10’)
|
Peserta didik mencermati video dari youtube berkaitan
dengan materi pembelajaran yang link atau tautannya
dikirimkan oleh guru. Kemudian siswa menanggapi atau bertanya jawab tentang
isi video tersebut.
|
b. problem statement (10’)
|
Guru meminta peserta didik masuk ke google classroom dan
bertanya jawab tentang isi video yang sudah dilihat.
|
c. data collection (15’)
|
Peserta didik membaca materi pada web/blog dengan link/tautan
yang dikirim guru berkaitan dengan mengidentifikasi isi laporan hasil
observasi yang dipresentasikan secara lisan dan menyeleksi isi teks laporan
hasil observasi yang dipresentasikan secara lisan
|
d. data processing (15’)
|
Peserta didik berdiskusi secara daring untuk mengidentifikasi
isi laporan hasil observasi yang dipresentasikan secara lisan dan menyeleksi
isi teks laporan hasil observasi yang dipresentasikan secara lisan
|
e. verification
(10’)
|
Peserta didik menyajikan hasil diskusi melalui surel, whatsapp atau
aplikasi daring lainnya dan saling memberikan catatan saran dan tanggapan
terhadap karya teman/kelompok lain.
|
f. generalization
(10’)
|
Peserta didik menyimpulkan hasil diskusi dan memperbaiki hasil
kerja.
|
3. Penutup (12 Menit)
|
|
a.
Peserta didik melakukan refleksi melalui grup whatsapp, surel,
atau aplikasi daring lainnya.
|
|
b. Guru memberikan umpan balik terhadap proses
dan hasil pembelajaran melalui grup whatsapp, surel, atau
aplikasi daring lainnya.
|
|
c.
Guru memberikan umpan balik dan penugasan melalui grup whatsapp,
surel, atau aplikasi daring lainnya.
|
|
d. Guru menginformasikan pembelajaran berikutnya
melalui grup whatsapp atau aplikasi daring lainnya.
|
|
C. Penilaian
1.
Sikap: observasi saat
pembelajaran
2.
Pengetahuan: tes tulis
dan penugasan
3.
Keterampilan: produk
peserta didik dan praktik
Mengetahui, Noelbaki,
6 Juli 2020
Kepala Sekolah Guru
Mata Pelajaran
Pdt. Ishak Mese Mnahonin, M.Fil Walkhot
Silalahi, S.Pd., MM.
A. Mengidentifikasi Isi Teks Laporan Hasil Observasi
Mengidentifikasi isi teks laporan hasil observasi adalah kegiatan menentukan atau menetapkan isi teks laporan hasil observasi.
Pokok-pokok isi teks terangkum dalam rumus 5W + 1H. Dalam bahasa Indonesia, pokok-pokok isi atau informasi itu dapat pula disingkat dengan ADIKSIMBA (Apa, DI mana, SIapa, Mengapa, BAgaimana) .
a. Apa (what) peristiwanya?
Jawaban sesuatu/perihal peristiwa dalam bacaan.
b. Siapa (who) yang mengalami peristiwa itu?
Jawaban: Pihak (subjek) yang diinformasikan.
c. Di mana (where) terjadinya peristiwa itu?
Jawaban: tempat terjadinya peristiwa.
d. Kapan (when) terjadinya peristiwa itu?
Jawaban: Waktu terjadinya peristiwa.
e. Mengapa (why) peristiwa itu terjadi?
Jawaban: alasan/penyebab terjadinya peristiwa.
f. Bagaimana (how) proses peristiwanya?
Jawaban: proses terjadinya peristiwa.
Berikut disajikan contoh teks dan identifikasi isi teks laporan hasil observasi
Wayang
Wayang adalah seni pertunjukan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya asli Indonesia. UNESCO, lembaga yang mengurusi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukan bayangan boneka tersohor berasal dari Indonesia. Wayang merupakan warisan mahakarya dunia yang tidak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).
Para wali songo, penyebar agama Islam di Jawa sudah membagi wayang menjadi tiga. Wayang kulit di Timur, wayang wong atau wayang orang di Jawa Tengah, dan wayang golek atau wayang boneka di Jawa Barat. Penjenisan tersebut disesuaikan dengan penggunaan bahan wayang. Wayang kulit dibuat dari kulit hewan ternak, misalnya kulit kerbau, sapi, atau kambing. Wayang wong berarti wayang yang ditampilkan atau diperankan oleh orang. Wayang golek adalah wayang yang menggunakan boneka kayu sebagai pemeran tokoh. Selanjutnya, untuk mempertahankan budaya wayang agar tetap dicintai, seniman mengembangkan wayang dengan bahan-bahan lain, antara lain wayang suket dan wayang motekar.
Wayang kulit dilihat dari umur, dan gaya pertunjukannya pun dibagi lagi menjadi bermacam jenis. Jenis yang paling terkenal, karena diperkirakan memiliki umur paling tua adalah wayang purwa. Purwa berasal dari bahasa Jawa, yang berarti awal. Wayang ini terbuat dari kulit kerbau yang ditatah, dan diberi warna sesuai kaidah pulasan wayang pendalangan, serta diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri atas tuding dan gapit.
Wayang wong (bahasa Jawa yang berarti ‘orang’) adalah salah satu pertunjukan wayang yang diperankan langsung oleh orang. Wayang orang yang dikenal di suku Banjar adalah wayang gung, sedangkan yang dikenal di suku Jawa adalah wayang topeng. Wayang topeng dimainkan oleh orang yang menggunakan topeng. Wayang tersebut dimainkan dengan iringan gamelan dan tari-tarian. Perkembangan wayang orang pun saat ini beragam, tidak hanya digunakan dalam acara ritual, tetapi juga digunakan dalam acara yang bersifat menghibur.
Selanjutnya, jenis wayang yang lain adalah wayang golek yang mempertunjukkan boneka kayu. Wayang golek berasal dari Sunda. Selain wayang golek Sunda, wayang yang terbuat dari kayu adalah wayang menak atau sering juga disebut wayang golek menak karena cirinya mirip dengan wayang golek. Wayang tersebut kali pertama dikenalkan di Kudus. Selain golek, wayang yang berbahan dasar kayu adalah wayang klithik. Wayang klithik berbeda dengan golek. Wayang tersebut berbentuk pipih seperti wayang kulit. Akan tetapi, cerita yang diangkat adalah cerita Panji dan Damarwulan.
Wayang lain yang terbuat dari kayu adalah wayang papak atau cepak, wayang timplong, wayang potehi, wayang golek techno, dan wayang ajen. Perkembangan terbaru dunia pewayangan menghasilkan kreasi berupa wayang suket. Jenis wayang ini disebut suket karena wayang yang digunakan terbuat dari rumput yang dibentuk menyerupai wayang kulit. Wayang suket merupakan tiruan dari berbagai fgur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita pewayangan kepada anak-anak di desa-desa Jawa.
Dalam versi lebih modern, terdapat wayang motekar atau wayang plastic berwarna. Wayang motekar adalah sejenis pertunjukan teater bayang-bayang atau serupa wayang kulit. Namun, jika wayang kulit memiliki bayangan yang berwarna hitam saja, wayang motekar menggunakan teknik terbaru hingga bayang-bayangnya bisa tampil dengan warna-warni penuh. Wayang tersebut menggunakan bahan plastik berwarna, sistem pencahayaan teater modern, dan layar khusus.
Semua jenis wayang di atas merupakan wujud ekspresi kebudayaan yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai kehidupan antara lain sebagai media pendidikan, media informasi, dan media hiburan. Wayang bermanfaat sebagai media pendidikan karena isinya banyak memberikan ajaran kehidupan kepada manusia. Pada era modern ini, wayang juga banyak digunakan sebagai media informasi. Ini antara lain dapat kita lihat pada pagelaran wayang yang disisipi informasi tentang program pembangunan seperti keluarga berencana (KB), pemilihan umum, dan sebagainya.Yang terakhir, meski semakin jarang, wayang masih tetap menjadi media hiburan. (Sumber: http://istiqomahalmaky.blogspot.co.id)
Jawablah pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan singkat dan jelas sesuai dengan isi teks tersebut.
1. Apakah wayang itu?
2. Kapan wayang ditetapkan sebagai warisan budaya asli Indonesia?
3. Siapa yang menetapkan wayang sebagai warisan budaya asli Indonesia?
4. Mengapa wayang ditetapkan sebagai mahakarya dunia?
5. Ada berapa jenis wayang berdasarkan bahan pembuatannya?
6. Apa sebutan dari wayang yang muncul kali pertama?
7. Apa saja gaya atau gagrak yang dimiliki oleh wayang purwa?
8. Apakah fungsi dari pertunjukan wayang?
9. Apa yang dimaksud dengan wayang motekar?
10. Apa yang dimaksud dengan wayang suket?
Dari segi isi, laporan hasil observasi mempunyai ciri sebagai Berikut.
a. Bersifat objektif.
b. Ditulis berdasarkan fakta yang ditemukan pada saat pengamatan.
c. Tidak mengandung hal-hal yang bersifat menyimpang, dugaan-dugaan yang tidak tepat, atau pemihakan terhadap sesuatu.
d. Ditulis secara lengkap
PERTEMUAN 2
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SMAS Advent Nusra
|
Alokasi Waktu 2 x 45 menit
|
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
|
KD. 3.2 dan 4.2
|
Kelas/Semester X/I
|
IPK 3.1.2 dan 4.1.2
|
Materi Pokok : Isi Laporan Hasil
Observasi yang Dipresentasikan Secara Lisan
|
|
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah melalui proses
pembelajaran dengan model discovery learning, peserta didik
mampu mengidentifikasi isi laporan hasil observasi yang dipresentasikan
secara lisan; menyeleksi isi teks laporan hasil observasi yang
dipresentasikan secara lisan; memiliki sikap tanggung jawab, kreatif, kerja
sama, dan selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
B. Langkah-Langkah Pembelajaran (model discovery
learning)
1. Pendahuluan (8 Menit)
|
|
a. Guru berkomunikasi dengan peserta didik
melalui grup whatsapp untuk segera masuk ke aplikasi google classroom, mengecek kehadiran
peserta didik melalui aplikasi whatsapp , mengucapkan salam
pembuka, berdoa untuk memulai pembelajaran.
|
|
b. Guru menanyakan kabar tentang kesehatan
peserta didik, mengingatkan peserta didik untuk senantiasa menjaga kebersihan
dan menjaga jarak saat berada di luar rumah.
|
|
c. Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
|
|
d. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran atau
kompetensi dasar yang akan dicapai
|
|
e. Guru menyampaikan cakupan materi dan
penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
f.
Guru dan peserta didik log out dari
aplikasi google classroom.
|
|
2. Inti (70 Menit)
|
|
a. stimulation (10’)
|
Peserta didik mencermati video dari youtube berkaitan
dengan materi pembelajaran yang link atau tautannya
dikirimkan oleh guru. Kemudian siswa menanggapi atau bertanya jawab tentang
isi video tersebut.
|
b. problem statement (10’)
|
Guru meminta peserta didik masuk ke google classroom dan
bertanya jawab tentang isi video yang sudah dilihat.
|
c. data collection (15’)
|
Peserta didik membaca materi pada web/blog dengan link/tautan
yang dikirim guru berkaitan dengan mengidentifikasi isi laporan hasil
observasi yang dipresentasikan secara lisan dan menyeleksi isi teks laporan
hasil observasi yang dipresentasikan secara lisan
|
d. data processing (15’)
|
Peserta didik berdiskusi secara daring untuk mengidentifikasi
isi laporan hasil observasi yang dipresentasikan secara lisan dan menyeleksi
isi teks laporan hasil observasi yang dipresentasikan secara lisan
|
e. verification
(10’)
|
Peserta didik menyajikan hasil diskusi melalui surel, whatsapp atau
aplikasi daring lainnya dan saling memberikan catatan saran dan tanggapan
terhadap karya teman/kelompok lain.
|
f. generalization
(10’)
|
Peserta didik menyimpulkan hasil diskusi dan memperbaiki hasil
kerja.
|
3. Penutup (12 Menit)
|
|
a.
Peserta didik melakukan refleksi melalui grup whatsapp, surel,
atau aplikasi daring lainnya.
|
|
b. Guru memberikan umpan balik terhadap proses
dan hasil pembelajaran melalui grup whatsapp, surel, atau
aplikasi daring lainnya.
|
|
c.
Guru memberikan umpan balik dan penugasan melalui grup whatsapp,
surel, atau aplikasi daring lainnya.
|
|
d. Guru menginformasikan pembelajaran berikutnya
melalui grup whatsapp atau aplikasi daring lainnya.
|
|
C. Penilaian
1.
Sikap: observasi saat
pembelajaran
2.
Pengetahuan: tes tulis
dan penugasan
3.
Keterampilan: produk
peserta didik dan praktik
Mengetahui, Noelbaki,
6 Juli 2020
Kepala Sekolah Guru
Mata Pelajaran
Pdt. Ishak Mese Mnahonin, M.Fil Walkhot
Silalahi, S.Pd., MM.
B. MENYUSUN RINGKASAN ISI TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI
Sebuah ringkasan pada dasarnya merupakan rangkaian pokok-pokok pikiran yang dirangkai menjadi satu dengan tetap memerhatikan urutan isi bagian demi bagian, dan sudut pandang (pendapat) pengarang tetap diperhatikan dan dipertahankan.
Untuk menyusun sebuah ringkasan, hal yang pertama harus dilakukan adalah membaca pemahaman isi teks, kemudian menemukan pokok-pokok isi informasi di dalamnya. Pokok-pokok isi sebuah teks dapat ditemukan dengan menemukan kalimat utamanya.
Kalimat utama adalah kalimat yang di dalamnya mengandung pokok pikiran atau gagasan utama yang menjadi dasar pengembangan sebuah paragraf. Gagasan utama bersifat umum dan dapat merangkum semua isi yang ada dalam sebuah paragraf.
Bacalah kembali teks di atas tentang Wayang. Untuk menemukan gagasan utama dari setiap bacaan maka perhatikanlah kutipan berikut!
Contoh Identifikasi gagasan utama paragraf
Paragraf
|
Gagasan Utama
|
Wayang kulit dilihat dari umur, dan gaya pertunjukannya pun dibagi lagi menjadi bermacam jenis. Jenis yang paling terkenal, karena diperkirakan memiliki umur paling tua adalah wayang purwa. Purwa berasal dari bahasa Jawa, yang berarti awal. Wayang ini terbuat dari kulit kerbau yang ditatah, dan diberi warna sesuai kaidah pulasan wayang pendalangan, diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri atas tuding dan gapit. Cerita yang biasanya digunakan adalah Ramayana dan Mahabharata. Wayang purwa terdiri atas beberapa gaya atau gagrak seperti, gagrak Kasunanan, Mangkunegaraan, Ngayogyakarta, Banyumasan, Jawatimuran, Kedu, Cirebon, dan sebagainya. Selain wayang purwa jenis wayang kulit yang lain yaitu: wayang madya, wayang gedog, wayang dupara, wayang wahyu, wayang suluh, wayang kancil, wayang calonarang, wayang krucil, wayang ajen, wayang sasak, wayang sadat, wayang parwa, wayang arja, wayang gambuh, wayang cupak, dan wayang beber yang saat ini masih berkembang di Pacitan.
|
Wayang kulit memiliki berbagai macam jenis jika dilihat dari umur dan gaya pertunjukan
|
Wayang wong (bahasa Jawa yang berarti ‘orang’) adalah salah satu pertunjukan wayang yang diperankan langsung oleh orang. Wayang orang yang dikenal di suku Banjar adalah wayang gung, sedangkan yang dikenal di suku Jawa adalah wayang topeng. Wayang topeng dimainkan oleh orang yang menggunakan topeng. Wayang tersebut dimainkan dengan iringan gamelan dan tari-tarian. Perkembangan wayang orang pun saat ini beragam, tidak hanya digunakan dalam acara ritual, tetapi juga digunakan dalam acara yang bersifat menghibur.
|
Pada setiap daerah, wayang wong memiliki sebutan yang berbeda.
|
Selanjutnya, jenis wayang yang lain adalah wayang golek yang mempertunjukkan boneka kayu. Wayang golek berasal dari Sunda. Wayang ini disebut juga sebagai wayang thengul. Selain wayang golek Sunda, wayang yang terbuat dari kayu adalah wayang menak atau sering juga disebut wayang golek menak karena cirinya mirip dengan wayang golek. Wayang tersebut kali pertama dikenalkan di Kudus. Selain golek, wayang yang berbahan dasar kayu adalah wayang klithik. Wayang klithik berbeda dengan golek. Wayang tersebut berbentuk pipih seperti wayang kulit. Akan tetapi, cerita yang diangkat adalah cerita Panji dan Damarwulan. Wayang lain yang terbuat dari kayu adalah wayang papak atau cepak, wayang timplong, wayang potehi, wayang golek techno, dan wayang ajen.
|
Wayang golek adalah salah satu jenis wayang yang berasal dari Sunda memiliki bahan dasar sebuah kayu
|
Perkembangan terbaru dunia pewayangan menghasilkan kreasi berupa wayang suket. Disebut wayang suket karena wayang yang digunakan terbuat dari rumput yang dibentuk menyerupai wayang kulit. Wayang suket merupakan tiruan dari berbagai figur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita pewayangan kepada anak-anak di desa-desa Jawa.
|
Perkembangan terbaru dunia pewayangan menghasilkan kreasi berupa wayang suket.
|
Dalam versi lebih modern, terdapat wayang motekar atau wayang plastik berwarna. Wayang motekar adalah sejenis pertunjukan teater bayang-bayang atau serupa wayang kulit. Akan tetapi, jika wayang kulit memiliki bayangan yang berwarna hitam saja, wayang motekar menggunakan teknik terbaru hingga bayang-bayangnya bisa tampil dengan warna-warni penuh. Wayang motekar ditemukan dan dikembangkan oleh Herry Dim setelah melewati eksperimen lebih dari delapan tahun (1993 – 2001). Wayang tersebut menggunakan bahan plastic berwarna, sistem pencahayaan teater modern, dan layar khusus.
|
Dalam versi modern terdapat wayang yang disebut dengan wayang motekar atau wayang plastik yang berwarna.
|
Semua jenis wayang di atas merupakan wujud ekspresi kebudayaan, yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan karena dapat dijadikan sarana untuk menyampaikan ajaran-ajaran yang baik dengan cara yang menarik. Pemerintah juga sering menggunakan wayang sebagai media informasi misalnya dengan menggelar wayang yang disisipi informasi tentang program pembangunan seperti keluarga berencana (KB), pemilihan umum, dan sebagainya. Terakhir, meski semakin jarang, wayang masih tetap menjadi media hiburan. Dengan kata lain, wayang mempunyai banyak manfaat bagi kehidupan antara lain sebagai media pendidikan, media informasi, dan media hiburan.
|
Wayang memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan, antara lain sebagai media pendidikan, media informasi, dan media hiburan.
|
Setelah menemukan semua gagasan pokok tiap paragraf dalam teks laporan hasil observasi di atas, kita dapat menggabungkan kalimat-kalimat itu dengan konjungsi yang tepat.
Berikut ini contoh hasil ringkasan berdasarkan gagasan pokok yang telah diidentifikasi.
Wayang adalah seni pertunjukan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya asli Indonesia. Wayang kulit dilihat dari umur, dan gaya pertunjukannya pun dibagi lagi menjadi bermacam jenis Wayang wong adalah salah satu pertunjukan wayang yang diperankan langsung oleh orang. Wayang golek adalah jenis wayang yang mempertunjukkan boneka kayu. Ada juga wayang suket yaitu wayang yang terbuat dari rumput dan wayang motekar atau wayang plastik berwarna. Semua jenis wayang di atas merupakan wujud ekspresi kebudayaan yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai kehidupan antara lain sebagai media pendidikan, media informasi, dan media hiburan.
Penilaian:
1. Kalimat utamanya ada di awal paragraf dan diakhiri dengan kalimat-kalimat penjelas disebut paragraf?
2. Kalimat utamanya ada diakhir paragraf dan diawal kalimat merupakan kalimat-kalimat penjelas disebut paragraf?
3. Ditengah-tengah paragraf menggunakan kata penghubung dan di awal kalimat dan diakhir kalimat menrupakan kalimat-kalimat penjelas disebut paragraf?
4. Ringkaskanlah bacaan di bawah ini!
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
PERTEMUAN 3
C. MENYIMPULKAN FUNGSI TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI
Laporan hasil pengamatan untuk memenuhi tugas mata pelajaran yang kamu susun selama ini merupakan salah satu fungsi teks laporan hasil observasi. Hal ini berarti teks tersebut dimaksudkan untuk memberitahukan atau menjelaskan kegiatan pengamatan yang dilakukan. Hasil observasi
terhadap suatu objek juga dapat berfungsi untuk memberitahukan kepada pihak berwenang atau terkait suatu informasi. Selanjutnya, informasi tersebut dapat dijadikan sebagai dasar penyusunan kebijakan. Salah satu contohnya adalah teks laporan hasil observasi kerusakan lingkungan.
Selain itu, banyak teks laporan hasil observasi yang dapat dijadikan bahan informasi untuk berbagai kepentingan. Teks laporan hasil observasi secara umum juga berfungsi sebagai alat endokumentasian suatu objek atau suatu kegiatan.
Tu g a s
1. Simpulkanlah fungsi teks laporan hasil observasi pada teks Wayang dan D’topeng Museum Angkut.
2. Carilah 2 contoh teks laporan hasil observasi kemudian tentukan fungsinya.
PERTEMUAN 4
MENGONSTRUKS TEKS LAPORAN
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, pada bagian ini kamu akan belajar menyusun teks laporan hasil observasi. Hal yang harus diperhatikan dalam melakukan kegiatan observasi atau pengamatan adalah menetapkan objek yang akan diamati, mempersiapkan hal-hal yang akan diamati, dan menyusun rancangan laporan hasil observasi.
Pada materi sebelumnya, kamu sudah belajar memahami isi teks laporan hasil observasi. Jika kamu sudah memahaminya, marilah lanjutkan dengan menyajikan gagasan ke dalam laporan hasil observasi. Sebagaimana yang sudah kamu pahami sebelumnya bahwa pada setiap paragraf terdapat gagasan
pokok. Jadi, mengembangkan teks dimulai dengan menuliskan gagasan-gagasan pokok terlebih dahulu. Setiap gagasan pokok dikembangkan menjadi satu paragraf.
Perhatikanlah contoh rangkaian gagasan pokok berikut.
1. Merpati sering disamakan dengan dara karena termasuk dalam ordo yang sama.
2. Merpati dan dara adalah burung yang berbadan gempal dengan leher pendek, paruh ramping pendek, dan cere berair.
3. Merpati dan dara memiliki spesies yang bermacam.
4. Berbagai spesies merpati dan dara dimanfaatkan sebagai burung hias.
Gagasan pertama dapat dikembangkan, dengan menambah gagasan-gagasan penjelas. Pengembangan gagasan dapat dibantu dengan format yang dapat kamu tuliskan dalam buku kerjamu.
Jika dikembangkan menjadi paragraf maka,
Merpati sering disamakan dengan dara karena termasuk dalam famili yang sama. Merpati dan dara termasuk dalam famili Columbidae dari ordo Columbiformes, yang mencakup sekitar 300 spesies burung kerabat pekicau. Dalam percakapan umum, kata “dara” dan “merpati” dapat saling menggantikan. Dalam praktik ornitologi, terdapat suatu kecenderungan bahwa “dara” digunakan untuk spesies yang lebih kecil, sedangkan “merpati” untuk spesies yang lebih besar. Namun, hal tersebut tidak diterapkan secara konsisten.
Apabila dilihat dari letak gagasan pokoknya, sebuah paragraf dibedakan menjadi empat kelompok yaitu (a) deduksi, (b) induksi, (c) campuran, (d) naratif dan deskriptif. Pada pelajaran kali ini, kamu hanya akan mempelajari tentang paragraf deduksi dan induksi. Paragraf deduksi adalah paragraf yang letak gagasan utamanya di awal paragraf, sedangkan paragraf induksi adalah paragraf yang letak gagasan utamanya ada di akhir paragraf.
Marilah berlatih mengembangkan paragraf sebagaimana contoh pengembangan di atas. Kembangkanlah di bawah ini jadi paragraf yang padu.
1. Merpati dan dara adalah burung yang berbadan gempal dengan leher pendek, paruh ramping
pendek, dan cere berair.
2. Merpati dan dara memiliki spesies yang bermacam.
3. Berbagai spesies merpati dan dara dimanfaatkan sebagai burung hias.
Rujukan
Kosasih, E. 2014. Jenis-Jenis Teks dalam Mata Pelajaran Bahasa Indoneisa SMA/MA/SMK. Bandung: Yrama Widya
Suherli, dkk. 2017. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X Revisi Tahun 2017. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
Suherli, dkk. 2017. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas X Revisi Tahun 2017. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
Komentar
Posting Komentar