Artikel Rohani "Kekhawatiran VS Kegelisahan"

Dalam kamus besar bahasa Indonesia kekhawatiran bermakna perasaan khawatir.

Kegelisahan dalam kamus besar bahasa Indonesia bermakna perasaan gelisah; kekhawatiran; kecemasan. Dengan demikian judul di atas Kekhawatiran VS Kegelisahan memiliki makna kecemasan. Manusia khawatir, gelisah dan bahkan cemas yang berlebihan membuktikan bahwa setiap insan di dunia ini memiliki sikap cemas dalam keseharian. 

Petrus mengatakan dalam tulisannya 1 Petrus 5:7 Serahkanlah kekhawatiranmu  kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu. Petrus, menganjurkan supaya manusia menyerahkan kekhawatiran kepada-Nya.Nya disini ditujukan kepada Allah Pemilik alam semesta dan pemilik kehidupan ini. Pemilik kehidupan ini sangat baik dan patut dimuliakan, karena Dia senantiasa memelihara manusia. 

Kegelisahan dan ketakutan terhadap apa yang mungkin akan terjadi, adalah salah satu dari emosi yang paling berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental. 

Sebuah Legenda pada abad pertengahan tentang seorang peziarah yang pada suatu malam bertemu dengan si Ketakutan dan si Wabah dalam perjalanan mereka ke London, untuk membunuh 10.000 orang. Peziarah bertanya kepada si Wabah, "Apakah ia dapat melakukan semua pembunuhan itu dalam satu malam?" Si Wabah menjawab, " Saya hanya membunuh beberapa ribu. Teman saya si Ketakutan akan membunuh sisanya." 

Tulisan ini mengajak kita tentang bagaimana pertolongan Kuasa Ilahi dapat membebaskan kita dari rasa takut dan gelisah. 

Kecemasan dan rasa takut adalah hal yang sangat umum. Hal ini sangat sering di alami, merusak dan menyakitkan. Gejala kecemasan yang umum termasuk keprihatinan, ragu, insomnia, gugup yang luar biasa, tegang, sakit kepala, kelelahan, pusing, jantung berdebar, sesak napas, keringat berlebihan, kesulitan konsentrasi dan kewaspadaan yang berlebihan. Kecemasan juga dapat timbul bersamaan dengan kepanikan. Allah pemilik kehidupan ingin membebaskan kita dari pengalaman yang tidak menyenangkan dan mengundang kita untuk percaya kepadaNya.

Tokoh dalam Alkitab yang sempat memiliki kekhawatiran dan kegelisahan dalam hidupnya Abram. Allah berjanji untuk membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tahun-tahun berlalu usia bertambah uzur namun belum memiliki keturunan. Kejadian 15:2-3 Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." Sikap Allah terhadap kecemasan Abram ialah, "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar." Kejadian 15:1. 

Masa depan kehidupan kita, bahkan masa depan kita ada di tangan Allah. Ia mengetahui bahwa bebas dari kecemasan merupakan salah satu kebutuhan terbesar kita, dan Ia mau agar kita merasa puas sekarang dan yakin terhadap hari esok. 

Kecemasan itu nyata, kecemasan itu melalui ketidakpastian hidup yang di alami. Ketidakpastian itu mungkin saja dekat, atau mungkin jauh di depan, dan mungkin saja itu tidak akan pernah terjadi; waktu terus berjalan, kecemasan hanya ada di pikiran. 

Mari kita belajar dari bayi, bayi membangun kepercayaan terhadap ibu atau penjaganya. Sekali kepercayaan ini teguh, maka mereka akan dengan senang hati dan yang menanti. Ini adalah awal dari kepercayaan, Allah meminta kita untuk berhubungan dengan-Nya sama seperti seorang anak kepada ibunya, menyerahkan diri kita secara nyaman dalam kelembutan perlindungan-Nya yang penuh dengan kasih sayang. 

Ada juga saat yang tepat untuk kita belajar dari alam tumbuh-tumbuhan dan burung-burung. Matius 6:25-33 dalam ayat-ayat ini Dia mengajarkan kita;

  1. Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? (25) Tetaplah pada proporsi yang sewajarnya. Marah yang tidak wajar, jika dilakukan terus menerus akan mengakibatkan kehilangan hal-hal yang benar-benar penting. Rutinitas kita setiap hari mengalihkan perhatian kita dari kepercayaan kita yang fundamental. Allah memberikan kehidupan kepada kita. Allah menciptakan tubuh kita. Allah mempunyai kuasa dan kemauan untuk melakukan hal itu, tidakkah Ia akan menyediakan makanan untuk memelihara ciptaan-Nya? Tidakkah Ia akan mengatur dan menyediakan pakaian untuk menutupi tubuh kita? 
  2. Burung pipit dan bunga bakung adalah hal yang sangat umum di alam. Allah memilih nya sebagai sesuatu yang berbeda dari kerumitan hidup yang tidak terukur manusia. Adalah jelas bahwa burung pipit tidak pernah ragu tentang hari esok dan bunga bakung tidak bekerja keras untuk memperoleh pakaian yang indah dengan metode terbaru, tetapi mereka juga terpelihara dengan baik. Matius 6:26,28-30. Terinspirasi oleh hal-hal sederhana dari alam.Tidakkah Ia akan lebih terlebih lagi mendandani kamu (30). 
  3. Menganalisis masalah supaya memperoleh solusi yang baik bisa saja sangat produktif, tetapi keraguan demi keraguan tidak dapat menyelesaikan persoalan malah justru memperbesar sisi negatif dari masalah itu. Dengan demikian, keraguan itu percuma dan tidak ada gunanya. Ayat 27. 
  4. Orang Kristen mungkin sering terjebak dalam lingkaran materialisme atau hal lain yang dapat mengalihkan perhatian mereka kepada hal-hal yang berhubungan dengan perkara duniawi; oleh karena itu Allah mengingatkan manusia, "Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Ayat 33. Untuk itu manusia perlu, memperteguh prioritas anda.
Pengalaman merupakan kunci terbaik untuk mengingat masa lalu. Winston Churchill berkata,"Saya teringat akan kisah seorang tua yang sedang sekarat di atas tempat tidur mengatakan bahwa dia mempunyai banyak masalah di dalam hidupnya, dan kebanyakan dari masalah itu belum pernah terjadi." (https://www.saidwhat.co.uk//quotes/political/winston_curchill)

Suasana hati manusia dapat berubah-ubah, sedangkan Allah dan janji-Nya tidak berubah. 

Daftar berikut menunjukkan beberapa hal yang membuat rata-rata orang mengalami kekhawatiran. Kekhawatiran pribadi berpusat pada:
  • lima puluh persen pada hal-hal yang tidak pernah akan terjadi. 
  • dua puluh lima persen pada kejadian masa lampau yang tidak dapat diubah.
  • sepuluh persen tentang kecemasan dari orang lain yang belum tahu kebenarannya.
  • sepuluh persen tentang kesehatan (kebanyakan dari hal itu ialah rasa takut). 
  • lima persen tentang masalah-masalah nyata yang akan dihadapi.   
Salah satu kunci untuk hidup bebas dari kekhawatiran dan kegelisahan ialah kepuasan. Kepuasan satu obat penawar yang efektif bagi kekhawatiran. Kepuasan bukanlah suatu suatu sikap bawaan tetapi sesuatu sifat yang diperoleh. Rasul Paulus menuliskan dalam Filipi 4:11, Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Di era sekarang ini, disat menghadapi pencobaan, menghadapi masalah yang tidak pernah putus, adalah kesempatan emas untuk membangun suatu perasaan puas terhadap apa yang kita miliki sekarang ini dengan tidak harus merasa khawatir terhadap apa yang akan dialami pada hari esok. 

Kesimpulan
Bukan bekerja yang membunuh, melainkan kecemasan, dan kekhawatiran. Jalan satu-satunya menghindarkan kecemasan ialah membawa setiap kesusahan kepada Allah. Janganlah kita memandang kepada sisi yang gelap. Marilah kita memupuk keceriaan roh. Jika kita mendidik jiwa untuk lebih percaya, lebih mengasihi, lebih sabar, mempunyai kepercayaan yang lebih sempurna kepada Bapa Surgawi. Maka kita akan lebih damai dan lebih berbahagia sementara kita melewati segala persoalan kehidupan ini. Allah tidak senang melihat kita resah dan mengkhawatirkan diri sendiri, Dialah satu-satunya sumber segala kasih karunia, kepenuhan setiap janji, realisasi dari setiap berkat. Pengembaraan kita sungguh akan sunyi sepi jika tidak bersama Allah. "Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim -piatu" Yohanes 14:18, tawaran Allah kepada Kita. Biarlah kita menghargai kata-kata-Nya itu, percaya pada janji-janji-Nya, mengulanginya hari demi hari dan merenungkannya pada malam hari, dan berbahagialah. EGW, "Pikiran, Karakter, dan Kepribadian, Jilid 2, hal 133;135. 
Jadi, gejala kekhawatiran dan kegelisahan itu sangat nyata, baik secara emosi maupun secara fisik, dan boleh jadi sangat menyakitkan. Itulah sebabnya Allah berjanji untuk membebaskan kita dari segala kecemasan.         


Tidak salah dan sangat baik jika ada respon dalam bentuk mengisinya di kolom komentar.

Komentar

Posting Komentar